Minggu, 08 Juli 2012

Nazam Aceh, Riwayat yang (Hampir) Hilang

EMBUN mulai menetes perlahan. Dinginnya menelisip ke pori-pori. Di langit, bulan serupa perahu cadik dari sebalik bukit. Sesekali cahayanya redup tertutup awan. Kurang dari lima menit, tanggal akan berganti. Namun, lantunan kisah berbahasa Aceh masih terdengar heroik pada alat pengeras suara.

“...umu donya tujoh ribèe thôn/ bak Adam phôn sampoe kiamat donya...” begitu secuil cuplikan yang terdengar dari atas panggung 4 x 4 meter tersebut. Di atas panggung yang dihias kain motif Aceh itu, seorang lelaki jangkung duduk di kursi. Ia membacakan nazam Aceh.

Ia kelihatan sangat semangat membawakan nazam tersebut. Sesekali kepalanya mengangguk. Tangan sebelah kanan memegang mikropon, sedangkan tangan kirinya berada di atas naskah yang ia baca, yang suatu waktu siap membolak-alik naskah tersebut.
“Itu nazam Nazam Teungku Di Cucum,” kata T.A. Sakti, dosen FKIP Universitas Syiah Kuala, yang malam itu menonton pertunjukan tersebut.

Nazam Aceh itu dibawakan oleh Teungku Ismail di Masjid Babul Maghfirah Tanjong Selamat, Aceh Besar. Pada spanduk di atas pintu masuk masjid tertulis “Dalam rangka pelantikan pengurus baru remaja Masjid Babul Maghfirah dan Isra Mikraj Nabi Besar Muhammad saw. 1433 H.

Pertunjukan ini membuktikan bahwa nazam Aceh masih ada. Seni tutur satu ini belum punah di Aceh. Hanya saja, sulit sekali mendapatkan orang yang mau membacakan nazam seperti Teungku Ismail.

Cut È, demikian sapaan akrab Teungku Ismail. Ia kelahiran 1951, telah menjadi pelakon nazam Teungku Di Cucum sejak 1970-an. “Tahun lalu, Cu È membawakan nazam Teungku Di Cucum saat penutupan malam pengajian Ramadan di Sileue, Aceh Besar. Selang dua malam kemudian, nazam ini juga dibawakannya di Blang Krueng,” ujar T.A. Sakti yang nama sebenarnya Teuku Abdullah.

Nazam Teungku Di Cucum yang dibacakan oleh Cut È mengisahkan tentang kehidupan manusia, mulai dari masih berbentuk mani, lalu berubah ke menjadi janin. Dikisahkan pula keadaan ibu mengandung hingga melahirkan. Selanjutnya, dikisahkan manusia sudah menjadi bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, tua, hingga mati.

“Menariknya, kisah yang dibawakan itu dibumbui dengan nuansa lokalitas keacehan. Kalau kita dengar dengan saksama, pengarang nazam ini seolah bisa membaca situasi kehidupan manusia akan datang,” tutur T.A. Sakti lagi.

Nazam Teungku Di Cucum yang dibacakan oleh Cut È itu dikarang pada 1270 H. Artinya, sudah seratus tahun lebih usia naskah itu dalam hitungan kalender hijiriah. Namun, Teungku Di Cucum dapat memperkirakan keadaan zaman sekarang. Misalnya saja, Teungku Di Cucum menyinggung soal perempuan yang gemar mengenakan rok pendek dan suka buka aurat. Itu adalah gambar kehidupan masa kini....

Mau tahu kelanjutan tulisan ini? Silakan lihat pada tabloid The Atjeh Times, edisi 5-11 Juli 2012.

4 Fakta Menarik Tentang Istri Presiden Mesir Sekarang Najlaa Ali Mahmoud

Najlaa Ali Mahmoud resmi menjadi ibu Negara bagi rakyat Mesir. Namun, ia tak mau disebut ibu negara. Najlaa lebih memilih sebutan pelayan bangsa.

Istri presiden Mesir yang baru terpilih, Mohamed Morsi itu berbeda dengan Suzanne Mubarak. Najlaa memilih hidup sederhana dan bersahaja. Sebagai ibu rumah tangga, Najlaa memilih memakai abaya, sehingga mencerminkan perempuan kebanyakan di negara Piramida itu.

Inilah fakta menarik tentang kehidupannya:

Tentang Ikhwanul Muslimin:

“Dr Mursi bergabung dengan Ikhwanul Muslim 31 tahun yang lalu, saat kami tinggal di Los Angeles. Anggota gerakan tersebut sangat terbuka dan menjelaskan bahwa keterlibatan dalam gerakan berisiko penjara, dan salah satu hal yang penting adalah bahwa istri setuju dengan jalan hidup tersebut sehingga rumah tangga tidak goyah.''

''Bagi kami, keluarga adalah sangat penting. Jadi, jika sang istri tidak mampu menghadapi ekspektasi-ekspektasi tersebut, maka Anda tidak akan dipaksa bergabung. Dr Mursi datang pada saya dan mengatakan bahwa dengan bergabung menjadi anggota Ikhwanul Muslimin ada risiko penjara dan hilang pekerjaan. Semua itu terjadi pada saat kami masih di Amerika. Saya katakana padanya, ‘Tidak masalah. Tidak ada masalah. Mari kita jalani, Insya Allah.’”

Pesannya pada kaum Kristen Koptik di Mesir.

“Saya ingin mengatakan bahwa kita ada di tanah air yang sama, keturunan yang sama. Islam tidak membedakan antara Muslim dan Kristen. Sebaliknya, kami belajar bahwa dalam Islam, umat Muslim dan Kristen memiliki hak penuh yang sama di negara yang sama. Mereka memiliki apa yang kami punya, dan kita semua memiliki kewajiban yang sama. Saya pribadi mengenal anggota masyarakat beragama Kristen, baik perempuan maupun laki-laki, dan saya bersyukur pada Tuhan, hubungan saya dengan mereka baik.”

Tentang peran sebagai ibu negara dan presiden.

”Dalam Muslim Brotherhood, kedudukan presiden dianggap sebagai pelayan nomor satu, karena presiden republic ini seharunya menjadi pelayan utama Mesir. Ia yang akan menjadi sponsor, dan ini adalah ajaran Islam. Dalam Islam, siapa saja yang memimpin dan mengelola urusan negara, seperti yang dikatakan oleh khalifah Umar bin Khattab, ‘jika ada unta yang jatuh di daerah Levant, saya yang akan diminta pertanggungjawaban.’ Inilah Islam.”

Tentang suaminya.

”Ia orang yang sangat seimbang, sangat serius. Ini bukan karena ia suami saya. Tapi memang sifatnya seperti itu. Ia sangat seimbang dan rasional serta bermental politis. Saya telah menikah dengannya selama hampir 31, 32 tahun. Saya tidak bilang dia pelawak, tapi ia punya selera humor dan pandai menghibur. Ia serius di saat yang serius dan menghibur di kala susah.” 
| sumber: republika